Ketika AI Menjadi Teman Curhat: Menyoal Empati dan Koneksi Manusia di Era Society 5.0

Oleh: Zidni Ridwan Nulmuarif — Mahasiswa Universitas Siber Asia

Ilustrasi: seseorang mengobrol dengan chatbot AI larut malam di kamarnya.
Ilustrasi: seseorang mengobrol dengan chatbot AI larut malam di kamarnya.


Pukul dua dini hari, layar ponsel menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar kos. Alih-alih menghubungi sahabat yang mungkin sudah lelap tertidur, jari justru mengetuk aplikasi chatbot kecerdasan buatan (AI) dan mulai mengetik keluh kesah yang selama ini dipendam. Fenomena ini bukan cerita fiksi. Di kalangan anak muda Indonesia, "curhat ke AI" telah menjadi tren yang ramai diperbincangkan sepanjang 2026, seiring makin populernya layanan seperti ChatGPT, Character.AI, dan berbagai chatbot pendamping (AI companion) lainnya. Alasannya sederhana: AI selalu tersedia dua puluh empat jam, tidak menghakimi, dan memberi ruang aman untuk bercerita tanpa takut rahasia bocor.

Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey menunjukkan hampir sepertiga dari sekitar 46 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar mencari bantuan profesional. Ketimpangan antara besarnya kebutuhan dukungan emosional dan terbatasnya akses layanan kesehatan mental inilah yang membuat chatbot AI tampil sebagai "pintu masuk" yang mudah dijangkau. Ironisnya, kemudahan itu punya sisi gelap: sebuah riset dari Drexel University pada 2026 mencatat remaja pengguna AI companion menghabiskan waktu hingga belasan jam sehari untuk mengobrol dengan chatbot, sementara data global memperlihatkan lonjakan tajam jumlah pengunjung Character.AI hingga ratusan juta pengguna pada awal 2026 saja.

Empati yang Diprogram, Empati yang Dihayati

Dari sudut pandang Estetika Humanisme, khususnya psikologi humanistik yang digagas Carl Rogers dan Abraham Maslow, manusia tumbuh secara utuh ketika mendapatkan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) dan empati yang benar-benar dihayati oleh sesama manusia. Empati semacam ini lahir dari kesadaran, pengalaman hidup, dan kepekaan emosi yang otentik. AI, sehebat apa pun kemampuannya mengolah bahasa alami, pada dasarnya bekerja dengan cara mengenali pola dari data percakapan lalu menyusun respons yang terdengar pengertian. Ia bisa meniru nada empatik, tetapi tidak benar-benar merasakan. Di sinilah letak paradoksnya: banyak orang merasa lebih nyaman "didengarkan" oleh mesin justru karena mesin tidak punya penilaian moral, sementara kebutuhan dasar manusia menurut hierarki Maslow, yaitu rasa memiliki dan kasih sayang, sejatinya hanya bisa terpenuhi secara utuh lewat relasi antarmanusia yang riil.

Society 5.0: Teknologi untuk Manusia, Bukan Pengganti Manusia

Konsep Society 5.0 yang mula-mula digagas Jepang menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, semestinya berpusat pada manusia (human-centered) dan diarahkan untuk menyelesaikan persoalan sosial, bukan untuk menggantikan esensi relasi manusiawi itu sendiri. Ketika chatbot AI membantu remaja yang kesulitan mengakses konselor karena keterbatasan biaya atau stigma sosial, di situ teknologi menjalankan perannya sebagai social capital, yaitu jembatan yang memperluas akses dukungan emosional. Namun ketika interaksi dengan AI justru membuat seseorang perlahan menjauh dari keluarga, sahabat, dan komunitasnya, di situ pula teknologi telah bergeser dari alat bantu menjadi pengganti, dan modal sosial yang seharusnya dipupuk lewat interaksi nyata justru tergerus.

Menimbang Manfaat dan Risiko: Sebuah Refleksi

Penulis melihat persoalan ini tidak bisa didekati secara hitam-putih. Di satu sisi, chatbot AI memang membuka akses dukungan emosional bagi mereka yang selama ini kesulitan menjangkau layanan profesional, terutama di daerah dengan keterbatasan tenaga psikolog. Kehadirannya bisa menjadi jembatan awal sebelum seseorang berani mencari bantuan yang lebih mendalam. Namun di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada AI berisiko memperburuk isolasi sosial, membuat seseorang kehilangan keterampilan membangun relasi yang penuh gesekan namun juga penuh pertumbuhan, seperti belajar berkonflik secara sehat, berlatih membaca bahasa tubuh, atau merasakan kehadiran fisik seseorang yang peduli. Kemampuan-kemampuan itulah yang justru menjadi inti dari kecerdasan emosional dan human literacy yang sesungguhnya.

Di sinilah pentingnya literasi manusia (human literacy) di tengah gempuran Industry 4.0 dan Society 5.0: kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan kapasitas untuk hadir secara utuh bagi sesama. AI boleh menjadi teman curhat pada jam-jam sulit ketika tidak ada siapa pun yang bisa dihubungi, tetapi ia tidak boleh menjadi pelarian permanen dari keberanian membangun relasi manusiawi yang autentik. Kampus, keluarga, dan lingkungan sosial perlu terus menghadirkan ruang aman untuk bercerita secara langsung, sehingga generasi muda tidak sepenuhnya menyerahkan kebutuhan emosionalnya kepada algoritma.

Penutup

Fenomena curhat ke AI adalah cermin zaman: era ketika teknologi tumbuh secepat kilat, tetapi kebutuhan manusia untuk didengar, dipahami, dan diterima apa adanya tidak pernah berubah sejak dahulu. Society 5.0 yang ideal bukanlah masyarakat yang menyerahkan seluruh urusan emosinya kepada mesin, melainkan masyarakat yang cakap memakai teknologi sebagai pelengkap, sembari tetap menjaga api empati antarmanusia tetap menyala. Pada akhirnya, secanggih apa pun algoritma, kehadiran manusia yang tulus tetap menjadi sesuatu yang tidak tergantikan.


Daftar Pustaka

Kompas.id. (2026, 21 Juni). AI Bisa Menjadi Teman Curhat Remaja, tetapi Ada Risikonya. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/ai-bisa-menjadi-teman-curhat-remaja-tetapi-ada-risikonya

Media Alkhairaat. (2026, Juli). Makin Banyak Orang Curhat ke AI, Ini Bahaya yang Jarang Dibahas. Diakses dari https://media.alkhairaat.id/curhat-ke-ai-bahaya-chatbot-emosional/

Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia. (2026, 5 Februari). Fenomena Chatbot AI di Kalangan Remaja. Diakses dari https://psychology.uii.ac.id/fenomena-chatbot-ai-di-kalangan-remaja/

Mojok.co. (2026). Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia. Diakses dari https://mojok.co/esai/kesepian-membuat-remaja-memilih-ai-sebagai-teman-curhat/

INSTIKI. (2026, 7 Mei). Fenomena Chat AI sebagai Teman Curhat di Kalangan Anak Muda: Teman Curhat atau Risiko Baru? Diakses dari https://instiki.ac.id/2026/05/07/fenomena-chat-ai-sebagai-teman-curhat-di-kalangan-anak-muda-teman-curhat-atau-risiko-baru/

Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist's View of Psychotherapy. Boston: Houghton Mifflin.

Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396.

Cabinet Office, Government of Japan. Society 5.0. Diakses dari https://www8.cao.go.jp/cstp/english/society5_0/index.html